Sunday, February 15, 2015

Tanda keimanan : ujian dari Alloh

Tanda keimanan : ujian dari Alloh

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لا يَزَالُ الْبَلاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ. (رواه أحمد)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. bala’ adalah ujian. Dimaksudkan untuk meningkatkan derajat dan kelas.
2. sasaran bala’ adala setiap yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan.
3. materi bala’ ada tiga : menimpa tubuh, menimpa harta, menimpa anak keturunan.
4. materi bala’ dengan ungkapan yang lain : menimpa personalitas pribadi atau intern, menimpa pada hal-hal yang terkait dirinya atau faktor ekternal, berupa modal harta untuk keberlangsungan hidup atau berupa modal keterlanjutan hidup, berupa anak turun.
5. Target bala’ : bertemu Alloh tanpa ada kesalahan.
6. bila manusia dalam menjalani hidupnya pasti melakukan kesalahan, maka bala’ pun pasti terjadi. untuk itu dikatakan dengan redaksi "la yazalu” (berlangsung terus).
7. kesalahan disini tidak diartikan berbuat maksiyat yang berbuah dosa. Tetapi sekedar kesalahan dalam beribabadah, sehingga dirasa perlu untuk diperbaiki, ditingkatkan, di istiqomahkan, dibuahkan, dan lain-lain sehingga pantas dimulyakan (karomah) untuk kemudian bertemu Alloh.

Wednesday, February 4, 2015

Tanda Keimanan : Jatah Kadang Berkurang

Tanda keimanan : sedikit pun tidak sia-sia

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِي الْآخِرَةِ وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى الْآخِرَةِ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا (رواه مسلم)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. Garansi Alloh : seorang mukmin tidak akan didholimi dengan mengurangi satupun hak hasanah nya, namun terkadang di berikan secara kredit, yakni nanti di akhirat.
2. ilustrasi : bila jatahnya sepuluh, maka harusnya diberikan 10 pula. Namun bila di fase dunia hanya diberikan 7, maka yang 3 akan diberikan di akhirat. Dan tentu dia akan lebih berterima kasaih, karena jatah 3 ini dikonversi kepada hitungan akhirat. Artinya, tentu akan jauh lebih berharga, bahkan dari 3 juta jatah di dunia sekalipun.
3. dari pemahaman seperti inilah banyak ulama berpandangan, bila dengan sengaja berbanyak puasa lillahi ta’ala, tentu jatah duniawi akan berkurang, dan diharapkan akan diganti jatah nanti di akhirat.
4. Garansi Alloh : seorang kafir akan menghabiskan seluruh hasanah sampai tak tersisa sedikitpun, sehingga di akhirat nanti sudah habis jatah hasanahnya.
5. seorang mukmin diharapkan untuk bersabar, karena hidup di dunia hanya sekedar transit untuk ke rumah sebenarnya.
6. diantara contoh kesabaran itu, adalah terkadang rejeki berjalan begitu pelan, bahkan justru saat ingin semangat kuat menambah taqorrub / dekat lagi kepada Alloh.
7. dan diantara contoh kesabaran itu, adalah agar tidak iri kepada orang kafir yang sedang berfoya bergelimang harta, karena sebenarnya itu sekedar menghabiskan jatah hasanahnya.

Tuesday, February 3, 2015

Tanda Keimanan : Dijamin Oleh Alloh

عن جابر بن عبد الله قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ , وَمَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ وَنَفْسِهِ كُتِبَ لَهُ صَدَقَةً, وَمَا وَقَى بِهِ الْمَرْءُ عِرْضَهُ كُتِبَ لَهُ بِهِ صَدَقَةً, وَمَا أَنْفَقَ الْمُؤْمِنُ مِنْ نَفَقَةٍ فَإِنَّ خَلَفَهَا عَلَى اللَّهِ ضَامِنٌ, إِلا مَا كَانَ فِي بُنْيَانٍ أَوْ مَعْصِيَةٍ. (رواه الدارقطني والحاكم)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. setiap yang baik shodaqoh, baik dalam hal targhib, contohnya nafaqoh, maupun dalam hal tindakan preventif, seperti menjaga kehormatan diri.
2. redaksi diatas ditujukan kepada setiap orang (lafal arrojulu). Dimana rojul ini patinya juga beriman, namun setelahnya Rasululloh mempertegas dengan lafal al-mu’min, yang menunjukkan mengenai kesungguhan dan ketebalan imannya.
3. bila orang beriman tentu meyaqini bahwa apapun pemberiannya, maka dikemudian waktu Alloh pasti akan menjadi dhomin nya (menanggungnya).
4. atau bisa dikata : bila beriman bahwa rizqi yang memberi adalah Alloh, maka jika habis dipake, tentu Alloh juga yang akan memberinya lagi, apalagi untuk hal yang positif.
5. ayat yang sesui
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
6. Pengecualian yang disampaikan ada dua :
a. pemberian untuk hal sia-sia, contohnya bangunan rumah.
b. pemberian yang pada puncaknya berupa kemaksiyatan.
7. Diantara dasar dari nomer enam poin a :
- bangunan tinggi tanda kiamat
- إذا أراد الله بعبد شرًّا خضر له في اللَّبِنِ والطين حتى يبني
Rasululloh bersabda : bila irodah Alloh kepada hamba diputuskan jelek, maka Alloh akan menghijaukan untuknya semen dan tanah sampai dia membangunnya.

Sunday, February 1, 2015

Tanda keimanan : tidak mengulangi kesalahan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ. (متفق عليه)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. seorang mu’min tidaklah dua kali disengat dalam satu lubang.
2. tasybih dhimny dengan wajhus syibeh ; seorang mu’min tidaklah terjebak kesalahan dua kali. Untuk musyabbah nya diambil dari kata “disengat” dan kata “lubang”. Sedang musyabbah beh nya adalah alaqoh dzihniyyah atau ter inspirasi dari kata mukmin.
3. maksudnya ; bila benar-benar seorang mu’min, maka segala akhlaq nya haruslah berdasar kesadaran iman, sehingga akan mengambil hikmah dari setiap perbuatannya.
4. bila tidak, maka akan berbuat coba-coba di tempat yang tidak diketahui statusnya, seperti menjulurkan tangan di lubang gelap. Padahal coba-coba seperti ini adalah bagian dari gambling yang itu ada sisi setan syahwatnya.
5, dan bila ternyata dia melakukan kesalahan, karena lubang itu ternyata ada ular atau kalajengking yang menyengat, maka tidaklah dibenarkan pengakuan keimanannya, bila dia mengulang lagi kesalahannya.
6. pesan pelajaran Rasululloh : jangan jahlun murokkab. (coba-coba dan mengulang kesalahan)

Wednesday, January 28, 2015

Tanda Keimanan : Tidak maksiyat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ. (رواه البخاري)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. Diruang iman orang zina tidak akan zina, begitu juga yang mabuk, mencuri atau yang mencari popularitas.
2. seperti dikata di thema kufur dan iman tidak menyatu , atau harusnya dalam ruang berbeda tetapi berhadapan langsung.
3. lafal arab “hiina” atau adalah dhorof zaman untuk menyatakan waktu sedang. Artinya ; bila sedang di ruang iman maka prilakunya adalah yang berbau keimanan. Namun bila sudah tidak berada di ruang itu, maka sangat rentan untuk terjebak kemaksiyatan.
4. bahwa keberadaan seseorang baik di ruang iman atau sebaliknya di ruang kufur, bisa terjadi begitu cepat secepat pandangan mata beralih. Atau bahkan lebih cepat dari itu, karena penggerak hati berbolak-balik adalah Alloh.

Sunday, January 25, 2015

Tanda Keimanan : Tidak Kikir

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالإِيمَانُ فِي قَلْبِ مُؤْمِنٍ، وَلا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ فِي جَوْفِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ. (رواه أسلم الرزاز)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. kikir dan iman, begitu juga debu medan perjuangan dan asap jahannam tidak akan pernah menyatu di relung hati muslim.
2. seperti dikata di thema kufur dan iman tidak menyatu , atau harusnya dalam ruang berbeda tetapi berhadapan langsung.
3. tetapi di hadits ini disampaikan bahwa ruang iman berhadapan dengan ruang kikir. Ini maksudnya seperti menghadapkan mengambil ruang besar iman dengan ruang kecil kikir yang beada di ruang besar kufur. Atau gaya balaghoh itnab yang dikemas dalam bahasa majaz : itlaqu sabab alal musabbab atau tindakan kikir menjadi sebab dihukumi musabbab kekufuran.
4. bila redaksi pertama adalah tentang bahan bakar tindakan manusia, maka dalam redaksi kedua disampaiakan : hasil akhir / buah tindakannya , yaitu siapa yang beriman mendapat mendapat surga, dan siapa kufur mendapat jahannam. 5. redaksi kedua pun disampaikan secara majaz ; itlaq sabab alal musabbab ; yaitu tindakan jihad fi sabilillah menjadi sebab mendapat musabbab surga.
6. bila di sinkronkan lagi jadinya : siapa yang beriman akan melakukan kebaikan sampai dikata jihad fi sabilillah. Dan siapa yang kufur, bahkan sampai dikata kikir, maka dia mendapat balasan jahannam.

Friday, January 23, 2015

Tanda keimanan : iman dan kufur tidak menyatu

Tanda keimanan : keimanan dan kekufuran

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ : لا يَجْتَمِعُ الإِيمَانُ وَالْكُفْرُ فِي قَلْبِ امْرِئٍ, وَلا يَجْتَمِعُ الصِّدْقُ وَالْكَذِبُ جَمِيعًا فِي قَلْبِ مُؤْمِنٍ, وَلا تَجْتَمِعُ الْخِيَانَةُ وَالأَمَانَةُ جَمِيعًا. (رواه ابن بطة)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. disetiap hati ada ruang-ruang. Baca disini.
2. di hati juga ada dua ruang yang saling berhadapan ; ruang iman berhadapan ruang kufur, ruang kebohongan seberang ruang kejujuran, serta di depan ruang khianat ada ruang amanat atau tanggungjawab.
3. tepat di tengah antara kedua ruang itulah ada satu lorong bernama ikhtiyar.
4. lafal ini dari kata khiyar artinya pilihan, juga berakar dari kata khoirun artinya baik.
5. berarti ikhtiyar bukan sekedar usaha. Tetapi usaha memilih yang terbaik dari dua perkara atau lebih.
6. ikhtiyar manusia adalah yang paling menentukan baik-buruk prilakunya. Padahal bila disinkronkan dengan ayat وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ (ketahuialah, bahwa Alloh benar-benar menjadi حائل / berada antara seseorang dengan hatinya . Al-Anfal 24), menunjukkan ilmu Alloh sangat dekat saat seseorang dalam proses ikhtiyar. Namun di sisi lain, lorong inilah yang menjadi tempat favorit setan khonnas / setan waswas. Jadi sangat wajar bila sering terjadi pertempuran suasana hati disini.
7. bila seseorang telah menentukan sikapnya dalam salah satu ruang yang saling berhadapan tadi, contohnya bila dia sudah masuk di ruang iman, maka dia tidak akan mungkin masuk di ruang kekufuran. Demikian juga yang terjadi pada ruang yang lain.
8. karena tidaklah mungkin satu ruang berisi dua hal yang saling bertolak belakang, semisal tempat makan satu ruang dengan WC tanpa ada penutup sedikitpun, begitu juga ruang dapur tidak bisa satu ruang dengan tamu.
9. hadis ini secara implisit merupakan sebuah pesan, agar kita selalu berada di ruang yang baik, jangan sampai keluar, bahkan masuk di ruang sebaliknya

Tuesday, January 20, 2015

Tanda Keimanan : Syukur dan Sabar

عن صهيب قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَجَبًا لأَمْرِ المؤمنِ إِنَّ أمْرَه كُلَّهُ لهُ خَيرٌ ليسَ ذلكَ لأَحَدٍ إلا للمُؤْمنِ إِنْ أصَابتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكانتْ خَيرًا لهُ وإنْ أصَابتهُ ضَرَّاءُ صَبرَ فكانتْ خَيرًا لهُ. (رواه مسلم)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. Ajaban ; sungguh mengherankan ! ungkapan untuk hal yang tak biasa melebihi standar normal, baik dalam masalah positif maupun atau negatif. Namun disini pada hal yang positif.
2. Buah (ihsan) keimanan yang sudah sampai pada puncaknya adalah syukur dan sabar.
3. Bersyukur saat mendapat kesenangan, dan sabar saat mendapat hal yang mendesaknya.
4. Letak kebaikan ; ada pada kata “fa kaanat” yang meruju’ pada kata “ashoobathu”. Maksudnya, musibah kesenangan dihadapi dengan bersyukur, dan musibah terjepit bahaya dihadapi dengan bersabar.
5. Maksudnya ; apapun musibah yang menimpa adalah kebaikan baginya, sehingga apabila dihadapi dengan baik, maka dia akan mendapatkan kebaikan berlipat.
6. Sedangkan kalimat “ajaban” adalah untuk merujuk kepada seorang mu’min yang sudah mempunyai sikap seperti nomer 5.

Friday, January 16, 2015

Tanda Keimanan : Sadar Kehormatan Diri

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَدْخُلْ الْحَمَّامَ إِلَّا بِمِئْزَرٍ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُدْخِلْ حَلِيلَتَهُ الْحَمَّامَ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَقْعُدْ عَلَى مَائِدَةٍ يُشْرَبُ عَلَيْهَا الْخَمْرُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ مِنْهَا، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ. (رواه أحمد)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. Siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka dilarang :
a. masuk kamar mandi kecuali dengan kain penutup (sarung)
b. se kamar mandi dengan istrinya
c. duduk di jamuan minuman keras
d. tidak kholwat dengan wanita tanpa ada mahromnyav 2. Poin (d) diberi alasan ; bila berduan saja, maka setan menjadi pihak ketiganya.
3. Seolah Beliau menyampaikan ; bila kurang menjaga iman lalu tidak ingat Alloh atau kurang beriman kepada hari pembalasan lalu tidak ingat kepada kematian.
4. Benang merah dari keempat larangan dalam hadits ini tentang menjaga kehormatan diri dan orang yang berada di sekelilingnya.
5. Poin (c) terlihat berbeda dengan poin yang lain, namun sebenarnya disini Beliau ingin menyampaikan hubungan kausalitas dari duduk di meja khomer. Tentu akan kepincut mencicipi, meminumnya, ketagihan, mabuk, sampai pada prilaku tak sadar. Dimana bila sudah mabuk, biasanya puncak ujungnya pada keberanian kepada wanita yang tak halal.

Thursday, January 15, 2015

Tanda Keimanan: Baik Dalam kata, Tetangga & Tamu

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. (متفق عليه)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. Ada tiga tanda-tanda keimanan. Dimaksudkan untuk sebagai tes uji sebera luas cakupan keimanan, sejauh mana masalah yang sedang difokuskan, serta setebal apa keimanan yang dimiliki.
2. Rukun iman ada 6. Namun disini disebut dua keimanan ; iman kepada Alloh dan iman kepada hari akhir. Maksudnya ; iman berbentuk targhib (harapan) setiap orang kepada Alloh dan iman berbentuk tarhib (ancaman) kepada hari kematian. Atau dengan bahasan lain ; iman vertikal dan iman horisontal.
3. Dalam hadits ini disebutkan 3 tanda cinta :
a. berkata baik atau diam
b. memulyakan tetangga
c. memulyakan tamu
4. Hadits ini bisa diartikan sebagai juga sebagai tanda tingkat serta efek buah keimanan seseorang mengenai;
a. sejauh mana dia bisa menghormati dan menjaga diri sendiri.
b. bila orangnya terlihat bertutur kata baik, maka perlu diuji keimanannya terkait dengan sejauh mana dia biasa berhubungan dengan orang lain, terutama tetangga.
c. bila orangnya terlihat baik dengan tetangga, maka sekali lagi bisa diuji keimanannya terkait dengan sejauh mana bila dia mendapat hal yang datang tiba-tiba, semisal tamu.
5. Ketiga tanda ini bisa diartikan juga sebagai anjuran:
a. belajar memperbaiki diri, terutama dalam soal bicara. Bila merasa tidak mampu, tidak manfaat atau yang lain, maka lebih baik diam.
b. belajar menghormati orang lain, terutama kepada yang terdekat dan biasa berjumpa.
c. belajar menghormati orang lain, terutama kepada yang biasanya datang tiba-tiba, yakni tamu.

Monday, January 12, 2015

Tanda Keimanan : Kuat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ (رواه مسلم)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. Baca dulu disini :
khutbah mengenai : kesempurnaan iman yang manis
Baca juga :
tanda keimanan : manisnya keimanan
Baca lagi :
tanda keimanan : kesempurnaan iman.html
Ketrangan lanjutan :
iman kuat
2. Sabda Beliau : Mu’min kuat “lebih baik” dan “lebih dicinta” Alloh dari pada mu’min yang lemah, menunjukkan ada gradasi level keimanan. Seolah Beliau ingin mengatakan : apapun yang berlandaskan keimanan adalah baik, dan yang tertinggi dari hal itu adalah dapat mendapatkan cinta Alloh.
3. Sabda Beliau : dan semuanya adalah baik ; sebagai illat (alasan) bahwa bila hal-hal itu berdasarkan keimanan maka semuanya adalah baik. Beliau seolah mengatakan ; minimal ada sejumput keimanan dalam berbuat, pasti akan berujung pada kebaikan.
4. Empat tips kenabian untuk meniti tangga dasar keimanan hingga cinta ;
(a) jaga semangat pada hal yang bermanfaat,
(b) minta pertolongan Alloh,
(c) jangan lemah,
(d) bila tertimpa musibah, jangan bilang “jika aku lakukan ini dan itu”, tetapi mantapkan bila ini taqdir dan kehendak Alloh. Alasannya : kata Law (jika) akan membuka setan bertindak.
5. Empat tips ini bisa diartikan :
(a) banyak amal yang terlihat baik, pilihlah yang paling bermanfa’at. Setelah itu, jaga semangat dalam menjalankannya.
(b) ista’in billah atau minta lah pertolongan kepada Alloh minimal dengan “bismalah”, dan lanjutkan hingga sampai “billah”.
(c) ukur kekuatan masing-masing, jangan sampai malah terjebak dan membuka sisi kelemahan diri.
(d) bila “sudah” terjadi hal yang tidak sesuai keinginan, jangan menyesal dan kecewa, tapi jaga keimanan terhadap taqdir Alloh. Karena semuanya ada masyi’ah Alloh yang dilambari oleh irodah Alloh.
6. Kata “law” membuka jalan setan bertindak, baik setan khonnas dalam was was, setan khowatir untuk tindakan selanjutnya.

Saturday, January 10, 2015

Tanda keimanan : Cemburu

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ عَلَيْهِ. (رواه مسلم)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. Hadits ini satu contoh lagi terkait dengan hal mutasyabihaat.
2. Sisi tasyabuhnya adalah Alloh punya sifat seperti sifat manusia ; yakni cemburu. Dimana bisa dibayangkan, kalau itu manusia yang cemburu, tentu akan berefek pada marah, benci, iri dan lain-lain.
3. Hal ini perlu di ta’wil seperti halnya sifat2 Alloh yang lain terkait mutasyabiihat itu, seperti Alloh malu, marah, benci, cinta dan lain-lain, dengan hal yang pantas dan layak untuk Sang Tuhan.
4. Memang seolah ada kesengajaan dalam peletakan kata yang mengandung tasyabuh, baik dalam Al-Qur’an maupun hadits. Semua itu bertujuan sekedar untuk taqrib tawdih (cara pendekatan untuk menjelaskan) dengan akal pemahaman manusia saja.
5. Disabdakan ; Alloh cemburu dan mu’min pun cemburu. Sedangkan kecemburuan Alloh itu saat mu’min melakukan apa yang diharamkanNya. Atau kecemburuanNya saat mu’min berpaling dari Nya dengan melakukan maksiyat.
6. Apa yang diharamkan disini tentu sangat luas cakupannya, selagi terkait keimanan. Bila kemaksiyatan itu karena keimanan hilang sampai terjadi kesyirikan, tentu itu bukan hal yang dimaksudkan Rasululloh disini.
7. Cemburu itu salah satu buah cinta. Dan cinta adalah manisnya buah keimanan yang sempurna. Artinya ada gradasi level cemburu juga, sesuai dengan tingkat keimanan yang dimiliki. Begitu juga efek yang terjadi akibat cemburu.
8. Baca dan sinkronkan disini :
khutbah mengenai : kesempurnaan iman yang manis
Baca juga :
tanda keimanan : manisnya keimanan
Baca lagi :
tanda keimanan : kesempurnaan iman.html

Sunday, December 28, 2014

Tanda Keimanan : Saling Menyayangi

Tanda keimanan : saling menyayangi

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إذَا اشْتَكَى شَيْئًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى. (متفق عليه)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. tasybeh yang terangkai dalam ; musyabbah : orang mukmin, musyabbah beh : jasad, wajhus syibeh ; sama-sama berlandas cinta, menyayangi dan loyal. Qorinah aqliyah : jika merasa ada keluhan, badan akan ajak-ajak seluruh anggotanya, untuk terjaga dan terlingkupi demam.
2. anggota badan satu dengan yang lain pasti berbeda, meski dalam pasangannya. Namun perbedaan ini tidak menghalangi mereka sehingga terbentuk dalam satu kesatuan yang disebut badan.
3. salah satu tanda keimanan adalah solid berjama’ah dalam segala situasi.
4. seperti contoh do’a : tawaffani musliman wa alhiqni bis shoolihiin (cabut nyawaku dalam keadaan menjalankan keislaman, dan sertakan aku di barisan orang-orang sholeh). Mati itu jatah pribadi, tapi nanti masuk surga barengan).

Tanda Keimanan : Bersaudara

Tanda keimanan : bersaudara

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَكْذِبُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا - وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ - بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ. (رواه مسلم)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. Setiap muslim bersaudara.
2. tanda bila bersaudara : tidak saling dengki, saling memata-matai, saling benci, saling tidak peduli, tidak pula melangkahi transaksi orang lain yang sedang atau sudah dibuat.
3. tanda bila sudah menjadi hamba Alloh ; merasakah persaudaraan sesama muslim, tidak mendholimi, tidak merendahkan, tidak membohongi, tidak menghinakan.
4. majaz : taqwa itu di sini ( di dada). Taqwa itu gerak tubuh, sedang yang dimaksud adalah hati. Artinya, poros segala tindakan itu ada di hati. Dan apa yang ada di hati sangat bergantung pada kekuatan iman.
5. Tanda akan besaran kekuatan inilah yang kemudian menentukan, seberapa besar kejelekan yang ada pada diri seseorang, sehingga pada akhirnya terlihat pada akhlaqnya, terutama saat dia meremehkan saudara sesama muslim.
6. baik apa yang diremehkan itu ada pada ranah ; jiwa, harta atau kehormatan.

Saturday, December 27, 2014

Tanda Keimanan : Tidak Ada Dosa Dalam Keimanan

Tanda keimanan : tidak ada dosa dalam keimanan

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لا يُخْرِجُ الْمُؤْمِنَ مِنْ إِيمَانِهِ ذَنْبٌ كَمَا لا يُخْرِجُ الْكَافِرَ مِنْ كُفْرِهِ إِحْسَانُ. (رواه ابن ابي الدنيا)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. bila iman adalah tali kekang perbuatan seperti telah disampaikan pada judul disana, tentu apa yang dilakukan tidak bisa lepas sesuai tali kekang itu.
2. bila tali kekangnya kuat sempurna, tentu ada garansi bila apa yang dilakukan pasti tidak lepas dan lolos dari ukuran dan tali itu dikencangkan. Begitu konsekuensi seterusnya bila ada gradasi terhadap kekuatan tali kekang itu.
3. lawan kata iman adalah kufur. Sampai disabdakan ; iman tidak melahirkan dosa, sebaliknya i h s a n tidak terlahir dari kekufuran.
4. Maka apapun yang dilakukan orang beriman tentu berkebalikan dengan apa yang dilakukan orang kafir. Meski dalam waktu, ruang dan tindakan yang sama, semisal kejujuran. Sama-sama tidak bohong, semisal dalam memberi opini ; itu adalah orang jujur. Tetapi karena dasarnya berbeda tentu konsekuensi dalam catatan amalnya berbeda.

Tanda Keimanan : Kesempurnaan Iman

Tanda keimanan : kesempurnaan iman

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ. (رواه ابو داود)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. setiap hati manusia mempunyai ruang-ruang. Dan begitu cepat suasana akan berubah dan bahkan berbalik, tergantung suasana. Contoh bila mata ke kanan melihat uang banyak, dia akan senang, melihat kiri melihat anaknya diganggu temannya, langsung berganti ke ruang marah, bisa tembus keruang benci. Bila mata ke depan melihat tugas kerjanya, pindah lagi menjadi sumpek. Dan bila ingat kakeknya sedang sakit, maka suasana menjadi sedih. Demikian seterusnya, begitu mudah hati berpindah ruang.
2. Dalam hati ada ruang malu, berani, berharap, takut, sabar, emosi, bahagia, syukur, dan lain-lain mencapai segala aspek akhlaq baik maupun akhlaq buruk.
3. dari sekian ruang, ada ruang cinta berbunga-bunga. Dan setiap orang pastinya mendamba mendapat suasana seperti ini. Apalagi bila cinta sudah memenuhi ruang-ruang hati, maka seolah tidak ada lagi ruang kebenciaan, ruang dengki, ruang pelit dan lain-lain.
4. dan bila cinta sudah memenuhi segala ruang, maka seperti disabdakan bahwa apa yang akan dilakukan semuanya dan segalanya hanyalah karena Alloh.
5. bila cinta sudah sampai di level tertinggi seperti itu, dan cinta itu kepada Alloh Sang Pencipta, bagaimana rasanya ? itulah puncak dari segala puncak tertinggi. Sehingga Rasululloh menyatakan ; imannya sudah sempurna.

Tanda Keimanan : Manisnya Keimanan

Tanda keimanan : manisnya keimanan

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ. (روواه البخاري)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. tiga tanda seseorang mendapat manisnya iman.
2. Alloh dan rosulnya lebih dicinta daripada selain keduanya. Yang pertama ibarat rumahnya, yang kedua ibarat pintunya.
3. tidak mencinta kepada sesama kecuali berdasar karena Alloh. Tanda ini satu level dibawahnya. Karena cintanya tidak langsung kepada Alloh, tetapi hanya kepada Alloh. Ibarat senang kepada teras depan rumah, bukan kepada pemiliknya.
4. benci pada kekufuran, taruhannya siksa bakar. Tanda ini satu level dibawahnya, karena tidak lagi di ruang cinta, tetapi ruang benci, meski itu karena Alloh.
5. kata 3 (tiga) tidak menjadi patokan pasti tidak ada yang keempat. Tetapi hanya ingin menunjukkan contoh dan gradasinya.

Friday, December 26, 2014

Tanda Keimanan : Bernafsu Untuk Ittiba’

Tanda Keimanan : bernafsu untuk ittiba’

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ. (الخطيب البغدادي)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. tidak dikata mukmin bila hawa nya tidak sesuai dengan apa yang aku bawa.
2. maksud tidak dikata mukmin ; tidak sempurna. Ini berlaku untuk semua hadis-hadis tentang tanda keimanan.
3. hawa ; angin. Cinta dan hasrat sering di ibaratkan angin oleh orang arab, wajhus syibehnya ; terombang-ambing sesuai kemana angin berhembus.
4. sesuai apa yang aku bawa ; maksudnya ; memang hasrat cinta itu tidak bisa dikendalikan kemana arahnya, sebab terserah kemana angin berhembus. Begitu juga dengan keimanan yang sudah tebal berisi, tentu seseorang akan fokus tertarik mengikuti (jadzab) disitu. Namun bila hawa keimanan itu bisa dikendalikan sesuai syari’at nabi, tentu itu satu tanda bahwa keimanannya sudah mencapai tingkat tertinggi.
5. keimanan orang jadzab tentu menunjukkan keimanan orang yang sudah level tinggi. Namun bila sudah bisa mengendalikan, dan lebih tertata sesuai syari’at, tentu itu tanda kesempurnaan.

Tanda Keimanan : Pasang Surut Keimanan

Tanda Keimanan : pasang surut keimanan

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَثَلُ الْمُؤْمِنِ وَمَثَلُ الْإِيمَانِ، كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِي آخِيَّتِهِ، يَجُولُ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى آخِيَّتِهِ، وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَسْهُو ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى الْإِيمَانِ، فَأَطْعِمُوا طَعَامَكُمْ الْأَتْقِيَاءَ، وَأَوْلُوا مَعْرُوفَكُمْ الْمُؤْمِنِينَ (رواه احمد)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. Beliau memakai isti’aroh tamsiliyyah ; padanan mu’min terkait keimanan, seperti halnya kuda dengan tali akhiyah nya (ikatan kekang di kepala kuda), dimana dia akan membiarkannya berjalan (semau kuda), lalu akan kembali pada tali kekanganya.
2. wajhu syibeh antara keduanya berupa statemen berikutnya ; bahwa seorang mukmin terkadang lupa, namun dia akan kembali pada keimanannya.
3. sahwun itu lupa seperti nge blank. Beda dengan ghoflah atau lalai yang lupa karena ketidakwaspadaan, atau membiarkan ketidak waspadaan bisa terjadi.
4. tips atau pelajaran untuk menjaga keimanan dan tidak lupa disini ada dua, semuanya bermuara pada hal sosial eksternal. Pertama pada lingkup tokoh masyarakat ; beri orang-orang taqwa itu (minimal) makanan. Kedua pada lingkup politik atau pejabat ; berikan urusan pemerintahan kepada sesama mukmin.

Tanda keimanan : Prioritas Tindakan

Tanda keimanan : prioritas tindakan

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَحَتَّى يُقْذَفَ فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ نَجَّاهُ اللَّهُ مِنْهُ، وَلَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ. (رواه احمد)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. tantangan kepada yang mengaku beriman, apa benar ?
2. dua statemen disampaikan ; pertama saat kondisi menuntut kesabaran ; Alloh dan rasulNya lebih dicintai meski disiksa bakar sekalipun. Kedua saat kondisi bersyukur .
3. Alloh dan rasulnya lebih dicinta daripada ; jalur ke atas yakni orang tua atau kerabat tua, jalur ke bawah yakni anak keturunan, dan jalur sesama, baik istri, teman, tetangga, atau yang lain.
4. bicara cinta tentu tiada logika. Dan bicara cinta yang bersumber keimanan berarti bicara tentang seorang makhluq yang berpolah tingkah religi, sampai ada orang lain bilang “orang ini sudah gila !”.
5. tanda keimanan ini berhubungan dengan ketiadaan pencitraan iman kepada sesama manusia.