Showing posts with label pelajaran. Show all posts
Showing posts with label pelajaran. Show all posts

Sunday, February 1, 2015

Tanda keimanan : tidak mengulangi kesalahan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ. (متفق عليه)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. seorang mu’min tidaklah dua kali disengat dalam satu lubang.
2. tasybih dhimny dengan wajhus syibeh ; seorang mu’min tidaklah terjebak kesalahan dua kali. Untuk musyabbah nya diambil dari kata “disengat” dan kata “lubang”. Sedang musyabbah beh nya adalah alaqoh dzihniyyah atau ter inspirasi dari kata mukmin.
3. maksudnya ; bila benar-benar seorang mu’min, maka segala akhlaq nya haruslah berdasar kesadaran iman, sehingga akan mengambil hikmah dari setiap perbuatannya.
4. bila tidak, maka akan berbuat coba-coba di tempat yang tidak diketahui statusnya, seperti menjulurkan tangan di lubang gelap. Padahal coba-coba seperti ini adalah bagian dari gambling yang itu ada sisi setan syahwatnya.
5, dan bila ternyata dia melakukan kesalahan, karena lubang itu ternyata ada ular atau kalajengking yang menyengat, maka tidaklah dibenarkan pengakuan keimanannya, bila dia mengulang lagi kesalahannya.
6. pesan pelajaran Rasululloh : jangan jahlun murokkab. (coba-coba dan mengulang kesalahan)

Friday, December 26, 2014

Tanda Keimanan : Pasang Surut Keimanan

Tanda Keimanan : pasang surut keimanan

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَثَلُ الْمُؤْمِنِ وَمَثَلُ الْإِيمَانِ، كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِي آخِيَّتِهِ، يَجُولُ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى آخِيَّتِهِ، وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَسْهُو ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى الْإِيمَانِ، فَأَطْعِمُوا طَعَامَكُمْ الْأَتْقِيَاءَ، وَأَوْلُوا مَعْرُوفَكُمْ الْمُؤْمِنِينَ (رواه احمد)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. Beliau memakai isti’aroh tamsiliyyah ; padanan mu’min terkait keimanan, seperti halnya kuda dengan tali akhiyah nya (ikatan kekang di kepala kuda), dimana dia akan membiarkannya berjalan (semau kuda), lalu akan kembali pada tali kekanganya.
2. wajhu syibeh antara keduanya berupa statemen berikutnya ; bahwa seorang mukmin terkadang lupa, namun dia akan kembali pada keimanannya.
3. sahwun itu lupa seperti nge blank. Beda dengan ghoflah atau lalai yang lupa karena ketidakwaspadaan, atau membiarkan ketidak waspadaan bisa terjadi.
4. tips atau pelajaran untuk menjaga keimanan dan tidak lupa disini ada dua, semuanya bermuara pada hal sosial eksternal. Pertama pada lingkup tokoh masyarakat ; beri orang-orang taqwa itu (minimal) makanan. Kedua pada lingkup politik atau pejabat ; berikan urusan pemerintahan kepada sesama mukmin.

Tanda keimanan : malu

Tanda keimanan : malu

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الْإِيمَانِ. (متفق عليه)

Keterangan : Sang Nabi menyampaikan :

1. pentingnya mau’idhoh kepada sesama.
2. sebagai orang yang lebih berhak menyampaikan materi, Beliau dengan bijaksana tidak lalu langsung nimbrung, sama seperti kode etik dokter kepada pasien.
3. sampai nanti bila ada kesalahan, tidak lalu menegur di depan pasien. Hal itu bisa merusak suasana ketiga belah pihak.
4. bila dikonotasikan, bahwa pelajaran yang disampaikan tidak sesuai dengan yang bicara, maka cara menasehati juga sangat kondisional. Dalam materi ini, Beliau bersabda “biarkan..”, artinya biarkan kenyataan yang akan menasehati, jika nasehat dan yang menasehati tidak sinkron, tentu akan malu sendiri..
5. huruf fa’ jatuh setelah perintah, menunjukkan illat hukum. Jadinya ; Biarkan ! (karena) malu dari iman.
6. kaidah : buah perbuatan adalah perbuatan juga. Dan buah gerak hati adalah suasana hati yang lain. Contoh ; Iman adalah gerak hati. Malu juga gerak hati. Artinya, secara simultan terjadi suasana yang berbeda di hati karena sesuatu yang sudah ada di hati.
7. hal ini menunjukkan bahwa hati manusia punya ruang ruang tersendiri. Sebab qalbu itu sendiri berarti bolak balik. Artinya, yang selalu bolak balik berpindah suasana.
8. dalam riwayat lain, “malu adalah satu bagian dari 70 bagian iman”. Dalam riwayat lain pula “al-haya’u al-imanu kulluh”, malu itu mencakup seluruh iman. Bila dikompromikan berarti ; malu itu ibarat dapur yang mewarnai seluruh kehidupan rumah.

Wednesday, December 24, 2014

Alloh Menciptakan keimanan

Alloh Menciptakan keimanan

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ الْخَلِقُ، فَاسْأَلُوا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ. (رواه الحاكم)

Keterangan :
1. Bila kita muncul di dunia ini tanpa kita sadari, tentu keimanan sebagai bahan bakar hati pun juga adalah ciptaanNya.
2. Ada tasybeh : iman itu ibarat baju. Musyabbah beh nya iman, musyabbah nya baju, wajhus syibeh : sama sama diciptakan.
3. Bila di hadis lain dibsabdakan : perbaruilah keimanan dengan memperbanyak tahlil, tapi disini Sang Nabi menyampaikan : berdo'a dan mintalah kepada Alloh agar iman selalu diperbaharui.
4. Diantara pelajaran ; iman itu mahal.



keterangan insya Alloh berlanjut

Iman, islam dan ihsan

Iman, islam dan ihsan

عن عُمَر بْن الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا، قَالَ: أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ، قَالَ: ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ لِي: يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ ؟ قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ (رواه مسلم)


Keterangan penting:
1. Husnudhon kepada seseorang yang datang
2. Contoh kerendahan hati rasululloh saat mengatakan :
"Itu Jibril mengajarkan agama pada anda",
padahal yang menjawab adalah Sang Nabi.
Jibril hanya memberikan umpannya.
3. Iman adalah sesuatu yang bergerak dalam hati.
4. Islam adalah perbuatan yang terefleksi dari hati.
5. Ihsan adalah buah menjalankan islam yang terefleksi dari hati yang beriman
6. Kapan kiamat ? tidak ada yang tahu. Tetapi Alloh memberikan tanda-tanda.
7. Contoh tanda itu menunjukkan iman, islam dan ihsan telah menyusut bahkan menjadi nihil.


keterangan insya Alloh berlanjut